Resume Asesmen ABK

  • Nama : Dewi Norliani Rahmah

  • NIM : A1F114226

  • Kelas : A-02

  • Angkatan : 2014Mata Kuliah : Asesmen ABK

  • Dosen Pengampu : Mirnawati M, Pd

  1. Konsep Dasar Identifikasi ABK
  • Pengertian Identifikasi

            Identifikasi berarti menemukan, menemukenali. Jadi, identifikasi dapat diartikan sebagai proses menemukenali.

            Identifikasi ABK adalah usaha seseorang untuk mengetahui apakah seorang anak mengalamai kelainan atau penyimpangan dalam pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak pada umumya seusianya. Identifikasi anak berkebutuhan khusus dapat dilakukan berdasarkan gejala-gejala yang dapat diamati.

  • Tujuan dan Fungsi Identifikasi

            Secara umum adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan / penyimpangan (fisik, intelektual, sosial, emosi, dll).

            Menurut Delp & Manning (1981) dalam (Haryanto, 2011) bahwa kegiatan identifikasi dilakukan untuk 5 tujuan yaitu:

  • Penjaringan
  • Pengalihatanganan
  • Klasifikasi
  • Perencanaan pembelajaran
  • Pemantauan kemajuan belajar
  • Sasaran Identifikasi

          Secara umum sasaran identifikasi anak ABK adalah seluruh anak usia pra-sekolah dan usia sekolah dasar.

  • Berdasarkan Lingkupnya : ABK yang mengalami kesulitan atau permasalahan belajar yang disebabkan oleh faktor intern.
  • Berdasarkan Keberadaannya :
  1. ABK yang sudah bersekolah di sekolah reguler;
  2. ABK yang baru masuk sekolah reguler;
  3. ABK yang belum masuk sekolah;
  4. ABK yang drop out dari sekolah.
  • Strategi Pelaksanaan Identifikasi

            Secara umum pelaksanaan identifikasi dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menghimpun Data Anak

                 Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data kondisi seluruh siswa di kelas (berdasar gejala yang nampak pada siswa) melalui instrumen-instrumen daftar ceklist perkembangan anak, baik secara fisik atau psikis. Bisa juga dengan membaca hasil tes psikologi yang pernah dilakukan anak sebelumnya.

  1. Menganalisis Data dan Mengklasifikasikan Anak

                 Pada tahap ini tujuannya adalah untuk menemukan anak-anak yang tergolong anak dengan kebutuhan khusus (yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar nama anak yang diindikasikan berkelainan sesuai dengan ciri-ciri dan standar nilai yang telah ditetapkan. Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut atau berindikasi kelainan sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dimasukkan ke dalam daftar nama-nama anak yang berindikasi kelainan. Sedangkan untuk anak-anak yang tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda berkelainan, tidak perlu dimasukkan ke dalam daftar khusus tersebut.

  1. Menginformasikan Hasil Analisis dan Klasifikasi

Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi yang telah dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk mendapat saran-saran pemecahan atau tindak lanjutnya.

  1. Menyelenggarakan Pembahasan Kasus (case conference)

 Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasikan oleh Kepala Sekolah setelah data anak dengan kebutuhan khusus terhimpun dari seluruh kelas. Kepala Sekolah dapat melibatkan: (1) Kepala Sekolah sendiri; (2) Dewan Guru; (3) orang tua/wali siswa; (4) tenaga professional terkait, jika tersedia dan dimungkinkan; (5) Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) jika tersedia dan memungkinkan.

Materi pertemuan kasus adalah membicarakan temuan dari masing-masing guru mengenai hasil identifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan cara-cara pemecahan serta penanggulangannya.

  1. Menyusun Laporan Hasil Pembahasan Kasus

Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara pemecahan masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam laporan hasil pertemuan kasus.

  • Tindak Lanjut Kegiatan Identifikasi
  1. Perencaanaan pembelajaran dan pengorganisasian siswa

                Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Menetapkan bidang-bidang atau aspek problema belajar yang akan ditangani: Apakah seluruh mata pelajaran, sebagian mata pelajaran, atau hanya bagian tertentu dari suatu mata pelajaran.
  • Menetapkan pendekatan pembelajaran yang akan dipilih termasuk rencana pengorganisasian siswa, apakah bentuknya berupa pelajaran remedial, penambahan latihan-latihan di dalam kelas atau luar kelas, pendekatan kooperatif, atau kompetitif, dan lain- lain.
  • Menyusun program pembelajaran individual.
  1. Pelaksanaan pembelajaran

   Pada tahap ini guru melaksanakan program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan dalam kelas reguler sesuai dengan rancangan yang telah disusun dan ditetapkan pada tahap sebelumnya. Sudah tentu pelaksanaan pembelajaran harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak, tidak dapat dipaksakan sesuai dengan target yang akan dicapai oleh guru. Program tersebut bersifat fleksibel.

  1. Pemantauan kemajuan belajar dan evaluasi

Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak. Jika anak mengalami kemajuan dalam belajar, pendekatan yang dipilih guru perlu terus dimantapkan, tetapi jika tidak terdapat kemajuan, perlu diadakan peninjauan kembali, baik mengenai isi dan pendekatan program, maupun motivasi anak yang bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya semua problema belajar anak, secara bertahap dapat diperbaiki sehingga anak terhindar dari kemungkinan tidak naik kelas atau bahkan putus sekolah.

  1. Konsep Dasar Asesmen ABK
  • Pengertian Asesmen

            Asesmen berarti proses pengumpulan data untuk tujuan penilaian dan pengambilan keputusan-keputusan dalam merancang program pembelajaran sesuai dengan kekuatan dan kelemahan siswa.

            Asesmen ABK adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang anak secara menyeluruh yang berkenaan dengan kondisi dan karakteristik, kelainan, kelebihan, dan kelemahan sebagai dasar penyusunan program pembelajaran, agar proses pembelajarannya sesuai dnegan kondisi dan kebutuhannya.

            Asesmen Pendidikan ABK adalah proses pengumpulan informasi secera sistematis yang relevan dengan kepentingan pendidikan anak yang dalam rangka pembuatan keputusan pengajaran dan layanan khusus.

  • Tujuan Asesmen
  1. Memperoleh data yang relevan objektif, akurat, dan komprehensif tentang kondisi anak.
  2. Mengetahui profil anak secara utuh.
  3. Menentukan layanan yang dibutuhkan dan memonitor kemajuannya.
  • Sasaran Asesemen
  • Secara umum sasaran asesmen adalah semua anak.
  • Secara khusus sasaran asesmen adalah semua anak yang dinyatakan berkebutuhan khusus berdasarkan hasil identifikasi.
  • Jenis-Jenis Asesmen
  • Asesmen perkembangan

Proses pengumpulan informasi tentang aspek-aspek perkembangan anak yang diduga secara signifikasn berpengaruh terhadap prestasi akademiknya.

  1. Asesmen Perkembangan Kognitif
  2. Asesmen Perkembangan Persepsi
  3. Asesmen Perkembangan Bahasa
  4. Asesmen Perkembangan Motorik
  • Asesmen Akademik

     Proses pengumpulan informasi yang berkenaan dengan kondisi aktual kemampuan akademik anak.

  1. Membaca
  2. Menulis
  3. Berhitung (Matematika)
  1. Prosedur Pengembangan Instrumen Asesmen dan Prosedur Pelaksanaan Asesmen

 

  • Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen Asesmen
  1. Memahami aspek dan ruang lingkup yang akan diases
  2. Menetapkan ruang lingkup, yaitu memilih komponen mana dari bidang yang akan diases
  3. Menyusun kisi-kisi instrumen asesmen
  4. Mengembangkan butir soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat
  • Pengembangan Instrumen Asesmen

            Untuk dapat mengembangkan  instrumen asesmen ada beberapa prosedur atau strategi yang dapat dipilih, yaitu asesmen formal dan asesmen informal.

  •      Asesmen formal dilakukan dengan menggunakan tes baku yang dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaan tes, kunci jawaban, cara menafsirkan hasilnya, dan alternatif penanganan anak yang bersangkutan. Penyusunan asesmen formal memerlukan keahlian tinggi, waktu yang lama, dan biaya yang besar, karena harus didasarkan atas validitas tertentu, memerlukan perhitungan reliabilitas , dan tiap butir soal perlu dikalibrasi untuk mengetahui daya pembeda dan derajat kesulitannya. Oleh karena , para ahli di bidang pendidikan bagi ABK umumnya mempercayai bahwa asesmen informal merupakan cara yang terbaik untuk memperoleh informasi tentang penguasaan anak.
  • Yusuf, M (2005) mengemukakan beberapa jenis asesmen informal yang dapat digunakan guru, seperti:
  • Observasi, analisis sampel kerja, inventori informal, daftar cek, skala penilaian, wawancara, dan kuesioner. Observasi, adalah suatu strategi pengukuran dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap perilaku siswa.
  • Analisa T ugas, lebih banyak digunakan untuk pengukuran maupun perencanakan pengajaran. Analisa tugas umumnya digunakan dalam bidang menolong diri sendiri. Misalnya tugas menyetrika baju/dari tahapan-tahapan yang dilakukan anak.
  • Infentori Informal, biasanya digunakan untuk melihat prestasi siswa dalam bidang akademik. Meskipun demikian dapat pula digunakan untuk mengukur aspek-aspek non akademik, seperti kebiasaan dan perilaku sosial.
  • Daftar Cek, biasanya digunakan untuk meneliti perilaku siswa di dalam kelas, atau patokan-patokan perkembangan.
  • Skala penilaian, memungkinkan diperolehnya informasi tentang opini dan penilaian, bukan laporan perilaku yang dapat diamati.
  • Kuisioner, biasanya berupa instrumen tertulis, sedangkan wawancara dilakukan secara lisan. Keduanya dapat disusun secara sistematis atau secara terbuka.
  • Metode dan Teknik Asesmen

            Seperti telah diuraikan di atas bahwa metode atau cara yang dapat digunakan dalam melaksanakan asesmen antara lain:

  1. Observasi, pengamatan yang dilakukan terhadap cara belajar siswa, tingkah laku yang muncul pada saat siswa belajar, dan sebagainya.
  2. Tes atau evaluasi hasil belajar, diperoleh dengan cara memberikan tes pada setiap bidang pengajaran.
  3. Wawancara, dilakukan terhadap orang tua, atau keluarga, dan siswa.

            Sedangkan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diharapkan melalui metode di atas adalah:

  1. Ceklis, yaitu memberikan tanda pada bagian-bagian yang telah ditentukan pada pedoman sesuai dengan kemampuan anak.
  2. Skala nilai, yaitu bentuk penilaian yang mengarah pada kemampuan atau prestasi belajar siswa.

     Adapun bentuk laporan hasil pelaksanaan asesmen dapat berupa:

  1. grafik, yaitu untuk menggambarkan posisi setiap siswa dalam tiap-tiap bidang pengajaran.
  2. Data kualitatif, yaitu deskripsi singkat tentang kemampuan siswa dalam belajar untuk setiap bidang studi.
  3. Data kuantitatif, yaitu data berupa angka. Supaya tidak menyesatkan, data kuantitatif ini hendaknya selalu diiringi dengan data kualitatif.
  • Prosedur Pelaksanaan Asesmen
  1. Guru melakukan asesmen berdasarkan instrumen asesmen yang telah disusun melalui teknik pelaksanaan asesmen.
  2. Menganalisis hasil asesmen.
  3. Membuat kesimpulan dan rekomendasi.
  4. Menyusun Program Intervensi.
  1. Asesmen Perkembangan Kognitif Dan Persepsi
  • Konsep Asesmen Kognitif Dan Persepsi

            Asesmen  Kognitif adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang anak secara menyeluruh yang berkenaan dengan kemampuan kognitifnya.

            Asesmen Persepsi adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang anak secara menyeluruh yang berkenaan dengan kemampuan persepsinya.

  • Menentukan Lingkup (Komponen) Kognitif Dan Persepsi
  1. Kognitif Dasar
  • Mengelompokkan
  • Mengurutkan
  • Menyusun
  1. Persepsi
  • Persepsi Auditoris, yang meliputi kesadaran fonologis, diskriminasi auditoris, ingatan auditoris, urutan auditoris, dan perpaduan auditoris.
  • Persepsi  Visual,  yang  meliputi  hubungan  keruangan,  diskriminasi  visual, diskriminasi bentuk  dan  latar, visual  closure, mengenal  obyek.
  • Persepsi  Heptik, yang  meliputi persepsi  taktil  dan  kinestetik.  Berikut  penjelasan  singkat  mengenai masing-masing  jenis persepsi.
  • Membuat Definisi Setiap Komponen Kognitif Dan Persepsi
  1. Kognitif Dasar
  • Mengelompokkan adalah suatu kemampuan mengelompokkan obyek berdasarkan karakteristik yang dimiliki obyek tersebut.
  • Mengurutkan adalah suatu kemampuan yang dikuasai anak dalam menyusun dan menghitung setiap obyek hanya satu kali secara berurutan, sehingga terdapat proses keteraturan.
  • Menyusun adalah kemampuan yang menunjuk pada adanya suatu konsep bahwa jumlah atau nilai sesuatu obyek akan sama sekalipun memiliki karakteristik yang berbeda.
  1. Persepsi
  2. Persepsi Auditoris adalah  kemampuan   untuk  memahami   atau menginterpretasikan segala sesuatu yang didengar. Persepsi ini mencakup kemampuan:
  3. Kesadaran  fonologis adalah  kesadaran  bahwa  bahasa  dapat  dipecah  ke  dalam  kata, sukukata, dan fonem (bunyi huruf).
  4. Diskriminasi Auditoris; Kemampuan mengingat perbedaan antara bunyi-bunyi fonem dan mengidentifikasi kata-kata yang sama dengan kata-kata yang berbeda.
  5. Ingatan Auditoris; kemampuan untuk menyimpan dan mengingat sesuatu yang didengar.
  6. Urutan Auditoris; kemampuan mengingat urutan hal-hal yang disarnpaikan secara lisan
  7. Perpaduan  Auditoris;  Kemampuan  memadukan  elemen-elemen  fonem  tunggal  atau berbagai fonem menjadi suatu kata yang utuh.
  1. Persepsi   Visual,   merupakan   kemampuan   untuk  memahami  atau menginterpretasikan  segala  sesuatu  yang  dilihat.  Persepsi  visual  mencakup  kemampuan berikut:
  2. Hubungan keruangan menunjuk pada persepsi tentang posisi berbagai obyek dalam ruang.
  3. Diskriminasi  visual menunjuk  pada  kemampuan  membedakan  suatu  obyek  dari  obyek yang lain.
  4. Diskriminasi  bentuk-Iatar menunjuk  pada  kemampuan  membedakan  suatu  obyek  dari latar belakang yang mengelilinginya.
  5. Visual closure menunjuk pada kemampuan mengingat dan mengidentifikasi suatu obyek, meskipun obyek tersebut tidak diperlihatkan secara keseluruhan.
  6. Mengenal  obyek menunjuk  pada  kemampuan  mengenal  sifat  berbagai  obyek  pada  saat mereka memandangnya.
  1. Persepsi  heptik  menunjuk  pada  kemampuan  mengenal  berbagai  obyek melalui modalitas taktil (perabaan) dan kinestetik (gerak).
  2. Persepsi  taktil;  berkaitan  dengan  sentuhan  atau  rabaan;  atau  kemampuan  mengenal berbagai  obyek  melalui meraba;  mis.  mengidentifikasi  angka  yang  ditulis  di  punggung, membedakan  permukaan  kasar  dari  yang  halus,  mengidentifikasi  jari  mana  yang digunakan untuk meraba,
  3. Persepsi  kinestetik;
  4. perasaan  yang  sangat  kompleks  yang  ditimbulkan  oleh rangsangan di otot, urat, dan pergelangan;
  5. mempunyai daya menyadari gerakan otot; misalnya  kesadaran  posisi, rasa  tubuh  tentang  kontraksi  otot,  tegangan, dan  relaksasi adalah beberapa contoh dari persepsi kinestetik.
  • Menyusunan Kisi-kisi Instrumen Asesmen Kognitif Dan Persepsi

        Langkah  selanjutnya  adalah  menyusun  kisi-kisi instrumen asesmen Kognitif Dan Persepsi baik dalam bentuk tabel maupun daftar. Pada  dasamya  tidak  ada  ketentuan  berapa  kolom  yang  kita  perlukan, namun  yang  paling penting kolom-kolom tersebut harus memuat tiga aspek, yaitu: kolom komponen keterampilan yang  akan  diases,  kolom  ruang  lingkup  atau  sub-sub  komponen dari  komponen  ketrampilan yang  akan  diases, serta  kolom  indikator-indikator  yang  akan  mampu  menggali  kemampuan atau keterampilan dari sub-sub komponen tadi.

  • Mengembangkan Butir-butir Instrumen Asesmen Kognitif Dan Persepsi

            Sama halnya dengan penyusunan kisi-kisi, pengembangan butir soal dapat dibuat dalam bentuk daftar atau tabel. Butir-butir soal dikembangkan berdasarkan indikator-indikator yang telah dijabarkan dari subkomponen keterampilan/kemampuan, yang kemudian dibuat lembar kerja siswa (LKS). Dalam hal ini guru/asesor dituntut untuk terampil membuat pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang relevan dengan informasi-informasi yang akan digali, yaitu kemampuan dalam perkembangan Kognitif Dan Persepsi dari seorang siswa . Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi berikut ini.

  1. Asesmen Perkembangan Bahasa dan Motorik
  • Konsep Asesmen Bahasa dan Motorik

            Asesmen  Bahasa adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang anak secara menyeluruh yang berkenaan dengan kemampuan bahasanya.

            Asesmen  Motorik adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang anak secara menyeluruh yang berkenaan dengan kemampuan Motoriknya.

  • Menentukan Lingkup (Komponen) Bahasa dan Motorik
  1. Bahasa
  • Pasif (Reseptif)
  • Aktif (Ekspresif)
  1. Motorik
  • Kemampuan untuk melakukan gerakan kasar (gross motor);
  • Kemampuan untuk melakukan gerakan halus (fine motor);
  • Kemampuan dalam keseimbangan (balance);
  • Kemampuan koordinasi (coordination).
  • Membuat Definisi Setiap Komponen Bahasa dan Motorik
  1. Bahasa
  • Pasif (Reseptif) adalah kemampuan memahami pikiran, perasaan, dan kehendak orang lain.
  • Aktif (Ekspresif) adalah kemampuan untuk menyatakan pikiran, perasaan dan kehendak sendiri kepada orang lain.
  1. Motorik
  • Kemampuan untuk melakukan gerakan kasar adalah gerak tubuh yang menggunakan sebagian besar otot-otot atau sekumpulan otot besar dan biasanya memerlukan tenaga. Duduk, merangkak, berdiri, berjalan, mengambil, menarik, mendorong, dan menangkap merupakan contoh-contoh gerakan kasar.
  • Kemampuan untuk melakukan gerakan halus adalah kemampuan gerak yang hanya menggunakan otot-otot tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil yang membutuhkan koordinasi gerak dan daya konsentrasi yang baik. Contoh-contoh gerakan halus, seperti: memegang benda kecil antara ibu jari dan telunjuk, menunjuk benda dengan jari telunjuk, dan membalik halaman buku.
  • Kemampuan dalam keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu.
  • Kemampuan koordinasi adalah kemampuan untuk mengatur kuat lemahnya suatu gerakan.
  • Menyusunan Kisi-kisi Instrumen Asesmen Bahasa dan Motorik

Langkah  selanjutnya  adalah  menyusun  kisi-kisi instrumen asesmen bahasa dan motorik baik dalam bentuk tabel maupun daftar. Pada  dasamya  tidak  ada  ketentuan  berapa  kolom  yang  kita  perlukan, namun  yang  paling penting kolom-kolom tersebut harus memuat tiga aspek, yaitu: kolom komponen keterampilan yang  akan  diases,  kolom  ruang  lingkup  atau  sub-sub  komponen dari  komponen  ketrampilan yang  akan  diases, serta  kolom  indikator-indikator  yang  akan  mampu  menggali  kemampuan atau keterampilan dari sub-sub komponen tadi.

  • Mengembangkan Butir-butir Instrumen Asesmen Bahasa dan Motorik

            Sama halnya dengan penyusunan kisi-kisi, pengembangan butir soal dapat dibuat dalam bentuk daftar atau tabel. Butir-butir soal dikembangkan berdasarkan indikator-indikator yang telah dijabarkan dari subkomponen keterampilan/kemampuan, yang kemudian dibuat lembar kerja siswa (LKS). Dalam hal ini guru/asesor dituntut untuk terampil membuat pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang relevan dengan informasi-informasi yang akan digali, yaitu kemampuan dalam perkembangan Bahasa dan Motorik dari seorang siswa .

  1. 6. Asesmen Akademik (Kemampuan Asesmen Membaca, Menulis, Berhitung)
  • Menentukan Komponen Kemampuan Akademik (Membaca, Menulis, Berhitung)
  1. Membaca
  • Membaca Teknis
  • Membaca Pemahaman
  1. Menulis
  • Keterampilan pra menulis,
  • Keterampilan menulis permulaan,
  • Keterampilan mengeja,
  • Keterampilan menulis lanjutan (mengarang)
  1. Berhitung
  • Aritmetika
  • Geometri
  • Pengukuran
  • Membuat Definisi Setiap Komponen Kemampuan Akademik
  1. Membaca
  • Membaca Teknis adalah proses decoding atau mengubah symbol-simbol tertulis berupa huruf atau kata menjadi system bunyi. Proses ini juga sering disebut pengenalan kata.
  • Membaca Pemahaman adalah suatu proses untuk mengenali atau mengidentifikasi teks, kemudian mengingat kembali isi teks.
  1. Menulis
  • Keterampilan pra menulis mencakup: (a) meraih, meraba, memegang, dan melepas benda, (b) mencari perbedaan dan persamaan berbagai benda, bentuk, warna, bangun, dan posisi, (c) menentukan arah kiri, kanan, atas, bawah, depan, dan belakang.
  • Keterampilan menulis permulaan meliputi: (a) Memegang alat tulis, (b) Menggerakkan alat tulis (atas-bawah,kiri-kanan,melingkar), (c) Menyalin huruf, kata, kalimat dengan huruf balok, (d) Menulis namanya dengan huruf balok, (e) Menyalin huruf balok dari jarak jauh.
  • Keterampilan mengeja mencakup: (a) Mengenal huruf abjad, kata, (b) Mengucapkan kata yang diketahuinya, (c) Mengenal perbedaan/persamaan konfigurasi kata, (d) Mengasosiasikan bunyi dengan huruf, (e) Mengeja kata.
  • Keterampilan menulis lanjutan (mengarang) meliputi: (a) Reproduksi, (b) Deskripsi (uraian), (c) Ciptaan dan (d) Karangan Penjelasan
  1. Berhitung
  • Aritmetika cabang matematikayang mempelajari operasi dasar bilangan.
  • Geometri adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara titik, garis, sudut, bidang dan bangun ruang.
  • Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan ukur.
  • Menyusunan Kisi-kisi Instrumen Asesmen Kemampuan Akademik (Membaca, Menulis, Berhitung)

Langkah  selanjutnya  adalah  menyusun  kisi-kisi instrumen asesmen kemampuan akademik (membaca, menulis, berhitung) baik dalam bentuk tabel maupun daftar. Pada  dasamya  tidak  ada  ketentuan  berapa  kolom  yang  kita  perlukan, namun  yang  paling penting kolom-kolom tersebut harus memuat tiga aspek, yaitu: kolom komponen keterampilan yang  akan  diases,  kolom  ruang  lingkup  atau  sub-sub  komponen dari  komponen  ketrampilan yang  akan  diases, serta  kolom  indikator-indikator  yang  akan  mampu  menggali  kemampuan atau keterampilan dari sub-sub komponen tadi.

  • Mengembangkan Butir-butir Instrumen Asesmen Bahasa dan Motorik

            Sama halnya dengan penyusunan kisi-kisi, pengembangan butir soal dapat dibuat dalam bentuk daftar atau tabel. Butir-butir soal dikembangkan berdasarkan indikator-indikator yang telah dijabarkan dari subkomponen keterampilan/kemampuan, yang kemudian dibuat lembar kerja siswa (LKS). Dalam hal ini guru/asesor dituntut untuk terampil membuat pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang relevan dengan informasi-informasi yang akan digali, yaitu kemampuan dalam kemampuan akademik (membaca, menulis, berhitung) dari seorang siswa.

 

  1. Asesmen Sebagai Dasar Penyusunan PPI

       PPI merupakan program pembelajaran yang didasarkan pada kebutuhan setiap siswa; berpusat pada siswa dan bekerja dengan siswa.

       PPI      siswa yang mengendalikan program dan bukan program yang mengendalikan siswa    karena siswa yang akan dibelajarkan, sehingga kebutuhan, perkembangan, dan minat siswa menjadi orientasi dalam mempertimbangkan penyusunan program.

       PPI bertujuan menselaraskan antara kebutuhan siswa, tugas dan perkembangan belajar siswa dalam upaya mengembangkan potensi siswa secara optimal.

       PPI adalah Program pembelajaran yang didasarkan pada gaya, kekuatan, dan kebutuhan khusus siswa dalam belajar (Lynch,1994)

       PPI berpusat pada siswa    setiap komponen PPI difokuskan pada kemajuan dan kebutuhan siswa (kurikulum digunakan sebagai rambu-rambu).

       PPI tidak semata-mata berdasarkan tujuan pembelajaran tetapi berdasarkan hasil asesmen.

       PPI tidak bekerja untuk siswa tetapi bekerja dengan siswa     setiap siswa harus mengetahui tujuan apa yang akan dicapai, tugas apa yang akan dikerjakan, dan bagaimana mengerjakannya

  • KOMPONEN-KOMPONEN PPI

                Berdasarkan The US Code (PL.94-142), PPI memuat enam komponen (Mercer & Mercer, 1989:22), yaitu:

  • Tarap kemampuan siswa saat ini
  • Tujuan umum yang akan dicapai (annual goal)
  • Tujuan pembelajaran khusus (short-term objectives)
  • Deskripsi tentang pelayanan pembelajaran
  • Waktu dimulainya kegiatan dan lamanya diberikan
  • Evaluasi
  • LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PPI

                Kitano & Kirby (Mulyono, 1995) terdapat lima langkah utama dalam penyusunan PPI, yaitu:

  • Pembentukan Tim PPI
  • Menilai Kebutuhan
  • Mengembangkan tujuan pembelajaran
  • Merancang metode dan prosedur pembelajaran
  • Menentukan alat evaluasi kemajuan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s